*♡KETIKA BAHAGIA BERADA DALAM GENGGAMAN TUHAN☆
Meniti kehidupan dalam hela nafas kerinduan, menatap mentari hendak bersinar, bak mengintip dibalik tirai fajar. Aku pun bergegas membuka jendela kehidupan untuk menggapai sinarnya yang menghangatkan—kala embun berdiam dalam hikmah suasana pagi yang hampir menusuk tulang.
Kugenggam erat jemari seraya berjanji dalam diri untuk menemukan kehilangan yang selama ini kucari dalam ruang dan waktu. Berjalan menapaki bumi yang terhampar luas hingga jurang nan dalam pun kuhampiri. Hingga kutemui lembutnya udara pagi berbalut kabut penguat jiwa.
Gemerlap malam ingatkan diri pada kesunyian dalam hening yang menawan.
Tanyaku dalam diri, kemana sang malam hendak berlalu melintasi pikir dan hati yang pilu.
Hingga ku terhentak dalam kesunyian yang hampir memudar tanpa merenggut rasa dalam jiwa yang sedang berdetak penuh kerinduan.
Dimanakah itu? Ketika mereka merayu, membawa diriku berlabuh dalam sendu nan semu.🍅
Mahuku adalah makna rindu tetap berlalu, menepis segala lara, membangun rasa, hingga ku terlupa berapa malam sudah ku terjaga.
Rindangnya pepohonan menghalau sinar— pastilah aku kan berjalan tanpa merasa. Satu rasa, satu bahasa dalam dekapan jiwa, di balik hening malam antara gemerlap dunia dan kerinduan. Hingga Tuhanku berbisik dalam renungan di sepertiga malam, menjawab segala yang tersampaikan pada insan-insan yang menggenggam manisnya gemerlap malam nan melalaikan.
Aku bersujud dalam hening hingga sang fajar menghembuskan hangatnya kasih dan sayang dalam Cinta setia tanpa pengkhianatan, kembalikan diri pada separuh jiwa yang hilang menghadap Tuhan Penguasa seluruh alam.
Rinduku terbayarkan, penuh decak kagum—menjawab segenap rindu hingga ku terdiam menggapai rasa sendu.
Ketika malam ku datang, dan kau pun terdiam tanpa jawaban, kemanakah hamparan ini hendak kubentangkan, mampukah malam bertahan tanpa panas siang yang mencerahkan hati yang damai beranjak suram.
Jauhkan aku dari reruntuhan rindangnya pepohonan, meski menyejukkan namun menghancurkan, dikala malam tak jua datang maka siang tanpa pengharapan.
Benarkah jalan yang dilalui tanpa tujuan, kutelusuri rindu disemerbak hembusan angin malam, berharap sang fajar segera bersinar merindukanku ditengah kegundahan.
Bukankah kini ku datang menghadap Tuhan, beribu kesempatan terpampang tanpa pesan, pastikan ku berlalu tanpa ragu dalam Kerinduan Cinta Tuhan yang tiada ragu dengan Keikhlasan.
Kemanakah ku berjalan ketika pagi ku tak jua datang, maka aku pun merindu tanpa kasih dan sayang. Dimanakah Insan yang Ihsan, yang kuharap kehadirannya ditengah malam, tapi hanya berlalu tanpa pesan.
Tanpa manisnya iman, apapun jadi sebuah kehampaan. Bukan iman tanpa kepercayaan, Bukan penantian bila tak ada kesabaran. Akupun terus berjalan menatap matahari yang tak kan pernah datang.
150217
Ketika hatiku bertanya dimana tempat sapa sang pencipta, mengapa hatiku penuh luka kala panas mentari tak tertata dalam redup malam penuh warna.
Aku rindu pada kuasa nya yang menuntut ku dalam damai berhias permata, maka ku pun lupa mengapa lara tak jua berjasa menepis jiwa yang harus berlabuh tanpa makna.
Aku berlabuh tanpa kapal, kusandarkan tanpa ikatan, kuharap tanpa tujuan, kusapa angin malam meski panas mentari tak jua hilang. Kuharap damai dalam gapai senja nan hilang ditelan malam tanpa kepercayaan.
Meski kasih Tuhan tak akan pernah berlabuh dengan pengingkaran, Maka kebenaran itu pun akhirnya datang dalam ruang kerinduan berbalut amarah mendendam hingga manisnya senyuman tak lagi terhiraukan.
Mau ku kau segera datang menghalau badai pembawa kehancuran. Namun kau kini jauh dari gapaian, laksana hembusan ombak penghancur karang maka kini kau pun menghilang tanpa pengharapan.
Apalah aku yang duduk damai dipemberhentian malam, ketika kebekuan tak tercairkan dengan kasih sayang maka kini akupun harus berpamitan karna malam tak kan pernah berujung pada sinar fajar pembawa pancaran kehidupan.🐣🌄
080317
Lembutnya buaian malam melelapkan setiap mata yang terpejam, hatiku yang damai penuh kebahagiaan meraih syukur atas..
Comments
Post a Comment