Sepucuk Surat dari Sahabatku

Terpikir oleh ku seperti apakah dia? Jika diibaratkan aku adalah kegersangan mungkin dia adalah tetesan hujan itu. Ikhlas tuturnya yang meneduhkan, lebar tawanya yang menggembirakan.

Dia hebat dalam apapun. Itu rasa ku, dia mampu membuat setetes air mataku jatuh. Ntah mengapa diriku jadi tak berdaya karenanya. Sampai sampai aku berpikir bisa kah aku sama dengannya?

Andalannya adalah katanya. Bisa terbayangakn betapa kecilnya aku jika ia berkata tentang mereka. Tak mengucilkan,dia taburkan kelopak sakura di tengah musim ini. Keindahnya muncul serasa tergapailah harapan indah bagi para penerusnya.

Terajarkan kemuliaan dari sebuah ketulusan. Dari nya tampak bahwa yang biasa akan jadi luar biasa, teranganku berharap bisa menggapainya.

Kelelahan hampir tak tampak dalam dirinya, ntah demi siapa kerelaan batinya menaburkan kelopak kelopak mawar yang indah nan wangi. Terpikirku kami lah itu, ada saat kau mungkin lelah pada ku dan kami, terbayangku apa pandanganmu tentang kami, sudahkah akan kau akhiri? Meskikah dilanjutkan? Sadarkah mereka? Dan akhir semua itu adalah melanjutkan menyebarkan keindahan. Untuk kami teruntuk pada ku.

Terasa malu jika aku hanya berteduh di bawah rindangnya pohon ini, tak juga terniatku untuk lari menikmati sekitarku yang lebih besar dari yang terduga.

Sekilas tersadarku dia yang menarikku untuk berlari. Aku masih takut atau malu bahkan ragu. Aku takut akan ada yang melukaiku jika kupergi dari pohon itu. Lebih dari itu diajarnya aku harus merasakan apa yang ada disekitarku.

 Tidak dengannya rasa lelahnya mungkin hilang karena ambisinya untuk kebahagiaan semua orang. Aku tak tau apa penguatnya, yang ku tau peyambungan ilmu untuk para insan seperjuangan adalah dasar baginya. Untuk bekalnya nanti bahkan hasilnya apa.

Doa ku untuk mu tetaplah menjadi pelita di tengah gelapnya malam hari tanpa hadirnya rembulan. Jadilah fajar yang tak pernah lelah datang menyapa insan. Moga moga kau aku dan kami menikmati kelopak mawar yang kau tabur untuk jadi ingatan di masa nanti.

Bak seorang ibu memberi bekal sang anak, serupa dengan mu yang membawakan bekal ilmu segudang penuh untuk ku.
Termaafku belum kuberikan hasil dari bekal mu itu sekarang tapi nanti kelak masanya tiba kukembalikan bekal mu untuk penerus lainmu.

Teringatku selalu
Miss wariyati

Comments