34. Kekuatan diri dalam Mutiara Iman

Ketika malam beranjak semakin larut, disitulah keteduhan sang putri mutiara mulai melebur dalam kesenduan dan kesederhanaan, damai dalam keberkahan. Mutiara, seorang putri jelita yang baru saja selesaikan tilawahnya dengan lantunan merdu penuh damai pada setiap ayat yang terlapaskan dari mulutnya. Hatinya terjaga dari kemaksiatan. Bibirnya terlindungi dari berucap kata2 menyakitkan.

Malam ini putri mutiara belum hendak tidur, meski mata mulai sepat, telinga sudah tak lagi sepakat. Terus ukirkan prestasi dalam istighfar mohonkan pengampunan diri. Hari2nya berlalu dengan begitu banyak pembelajaran kehidupan. Dalam renungan malam hatinya pun berbicara pada benak dikepalanya berharap logika dan iman bisa bekerjasama

"Apa jadinya jika kesukaannya adalah memajang foto wanita yg membuka aurat di akun media sosialnya. Apakah indikasi kesholehan sudah terpatri dalam jiwanya? Aku tak ingin gegabah dalam penetapan insan pilihan buat teman kehidupan. Biar mapan, dan juga harus beriman. Bukan label iman, melainkan lebih kedalam makna iman itu sendiri. Biarkan aku sabar dalam kesendirian, selama Tuhan karuniakan aku keridho'an."

Aku terus berdo'a dalam makna cinta sesungguhnya. Bagaimana cara Tuhan buatku bahagia. Prinsipku yang mengedepankan kejujuran terasa tidak akan sejalan dengan ia yang mengedepankan kebohongan demi sebuah pengakuan dan pencitraan. Lebih bersebrangan lagi saat aku yang sederhana ini yang mengasihi, sekaligus menyayangi sesama harus berdampingan dengan orang yang suka melebihkan apa yang tiada agar terkesan ada dan luar biasa. Aku merasa lelah..., terkesan murah.,, bahkan bak seonggok sampah. Maka kuputuskan untuk pasrah dalam do'a indah yang setiap malam aku mohonkan pada Allah. Jangan lagi resah kala ia tak lagi beri ramah. Dan inilah kisah, wanita berlian yang selalu indah dalam balutan kesabaran walau masalah tak pernah menyerah buat kuatkan hatinya yang kadang kala melemah.

Comments