Apa yg dimiliki, kemudian diambil, sudahlah jadi hal biasa. Tawa itu kadang hadir. Senyum itu tiba2 menyeringah begitu indah. Namun sesaat ia hilang, mau bilang apa. Segala yang diperoleh adalah titipan Tuhan. Kala ku bisa bersenda gurau adalah hadiah dari Tuhan. Saat tawa ceria, begitu gembira dengan canda riang bahagia, serontak segala kesulitan sirna, itu juga karena kebaikan dari yang Maha Kuasa. Sewaktu yang menyenangkan itu hadir, buat hati dan rasaku nyaman, itu juga hadiah dari Kasih Sayang sang Maha Penyayang. Dada ku penuh suka, syukuri setiap titipan yang Kau berikan. Meskipun itu baru saja ada, canda, suara bahagia dan sekarang semuanya sudah hilang. Kontak media pun tiada lagi bisa kugapai. Tapi inilah perjalanan melalui titipan kilat yang kudapat dan anggaplah ini Rahmat dari Tuhan yang Maha Hebat. Aku tak mau jadi hamba yang berkhianat. Semua berjalan dalam angka 24, baik buruk, awal dan akhir, suka maupun duka, hanya ukuran angka di jam dinding semata. Sama persis dengan angka kelahiranku. Apa saja yang terjadi tetap dibawah angka 24 tak lebih. Jika masih berlanjut diluar batasan angka tersebut sudah pasti itu masuk ke episode berikutnya.
Maka kami saling menjaga hati, agar tetap bisa mensyukuri, apa yang dulu sudah diberi dan kini tak lagi dimiliki. Aku Ikhlas dan terus belajar Ikhlas, hingga Tuhan ampuni segala rasa salah dan segala tindak khilafku. Biarkan aku terus berlatih dalam kesabaran hingga bijaksana itu hadir dalam dada. Hingga kata tulus benar2 jadi jurus yang buatku terjaga berada dijalan lurus. Semua yang manis bisa jadi pahit seketika. Segala yang riang dan terang benderang bisa jadi kelabu tiba2. Apapun mungkin. Jangan heran apa yang dirasa, dilihat dan dapat digapai oleh panca indra menghilang tanpa pesan. Semua ini seperti paket internet yang sedikit demi sedikit akan berkurang kuota nya ketika tiba masa nya. Terus dan terus belajar serta berlatih. Pasrahku terpaut titipan Kikat dari Sang Pemilik seluruh Jiwa makhluk alam semesta.
Bila takdir itu tak berpihak dengan kata jamak, dua , kita maka cukup gantikan aku dan Kau. Ayolah mainkan peranmu. Kerena semua sudah miliki skrip ditangan masing2. Biarkan ku melangkah tanpa kata Kau. Dan tegapkan langkahmu tanpa kata aku. Risau tak lahi terhalau, tapi alunan nada kehidupan berikan tanda bahwa Bab cerita ini harus segera berganti. Mutiara hendak pergi sambung cerita yang sudah diakhiri.
Comments
Post a Comment