38 Rindu yang tak perlu

Berhenti.., berhentilah mencari tahu, sesuatu yang sudah disimpan, yang sudah diakhiri pada ucapan, yang sudah diteriaki perbedaan. Maka tak perlu lagi ada harapan yang menjulang, kala kau sudah tak berharap pengulangan. Duhai hati yang teduh, lidahmu tak lagi paruh, lapisi sejuknya diri dalam lisan yang hakiki. Tutur yang bagus dan hati yang tulus.

Oh jiwa yang pernah rapuh..., biarkan dirimu berubah dalam cara yang indah agar terlihat mewah. Dahulu terkesan murah, bahkan kau begitu rendah. Tapi biarlah.., jangan pernah resah, kala rintangan tak mau menyerah. Diri yang teduh, pastikan kau tak akan mengeluh. Hidup butuh diri dan hati yang tangguh. Masukkan segala gerah dalam dzikir yang teduh. Teduh dilisan dan teduh pada perbuatan. Tak lagi tertengok dibelakang, apalagi berpikir menyesal. Segala perbuatan biarlah jadi pelajaran, yang penting tetap fokus pada perbuatan.

Oh kehidupan.., marilah berdamai dengan ihsan perubahan. Bersahabatlah dengan diri yang betul2 rindu perbaikan. Jangan kau gundahkan jiwa yang tenang. Biarkan kebaikan tinggal pada jiwa tenang. Duhai Iman marilah bergandeng tangan, mengharap kasih sayang Tuhan agar hidup penuh keberkahan.

Hatiku lelah jika harus merasa amarah. Jiwaku gerah bila masih ada resah dan gundah karena kisah asmara tak tentu arah. Hanya satu tujuan, Kehendak Tuhan pasti hadirkan yang terbaik dalam kehidupan. Jangan indahkan punya orang jika itu buatmu jadi tertekan. Syukuri segala kenikmatan, baik yang kau harapkan atau yang tak pernah kau perkirakan.

Mama.., kau pasti paham, bahwa rinduku tak benar. Bahwa mataku tak beralasan hindarkan insan yang hanya jadi perusak iman. Aku berlalu dan kau sudah menuju hidup baru. Aku ada kala kau tiada. Nata dan Ruzul jadi pancaran malam indah dalam hidup dimasa lalu.

Comments